Prabowo Nyapres Buat Bayar Utang

Baru saja buka , saya dikejutkan oleh trending topic lokal Indonesia. Terbaca nomor satu disana, hashtag atau hestek yang sangat mencolok, yaitu #PrabowoNyapresBuatBayarHutang. Apakah ini berarti para cyber army lawan Prabowo sedang menyerang mereka? Atau ini sekadar iseng-iseng para abegeh yang senang memainkan hestek? Atau kedua-duanya?

Indonesia adalah pengguna twitter terbesar nomor empat di dunia. Maklumlah, ada 250 juta penduduknya. Jaringan internetnya pun lumayan, meski kurang cepat. Setelah revolusi  ISP (internet service provider) di awatl tahun 2000an, dan sekarang ditambah dengan kemampuan smartphone yang bisa mengakses internet, jumlah pengguna media sosial di Indonesia melonjak tinggi. Dengan hanya Rp 25.000 per bulan misalnya, anda bisa menikmati layanan internet sebesar 5 GB per bulan. Cukup kalau hanya untuk browsing seperlunya dan bergaul di dunia maya. Karena kemudahan tersebut, dalam ruang lingkup kota pengguna twitter, ternyata Jakarta adalah rajanya, alias nomor satu, meninggalkan kota-kota besar lainnya di seluruh dunia seperti New York, Tokyo atau Singapura. Bangga sekaligus khawatir.

TTI Prabowo Nyapres BUat Bayar Hutang
TTI Prabowo Nyapres BUat Bayar Hutang

Mengapa bangga? Karena hal tersebut menunjukkan bahwa rakyat Indonesia tidak ingin tertinggal dalam pergaulan dunia. Kita ingin sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya, bergaul setara dalam hal media sosial atau social media. Ketika facebook booming, Indonesia ikut booming. Ketika twitter mendunia, Indonesia ikut mendunia. Ketika instagram, whatsapp dan path merajalela, warga Indonesia tak mau ketinggalan. Bahkan sosmed yang terakhir, path, sahamnya sudah dimiliki salah satu konglomerat Indonesia, Abu Rizal Bakrie.

Tapi ada sisi khawatirnya juga. Setidaknya ada tiga. Pertama, banyak pengguna sosmed tidak menggunakan media itu sebagai ajang sosialisasi diri, mencari teman atau pengetahuan, atau hal-hal positif lainnya. Banyak yang justru melarikan diri dari pergaulan sosial dunia nyata. Ada juga yang hobi nge-hack alias mencuri akun orang lain. Banyak yang menjajakan bisnis ilegal di twitter. Banyak yang bikin akun ilegal alias anonim dan mencoba mempengaruhi pengambil keputusan.

Jokowi atau Prabowo
Jokowi atau Prabowo

Hal terakhir itulah yang sering terjadi akhir-akhir ini. Entah ada yang mengoordinir atau tidak, banyak sekali hashtag ganjil alias tidak lazim yang beredar beberapa bulan belakangan ini. Ganjil artinya tidak seharusnya hestek tersebut menjadi perhatian khalayak terlalu ramai. Seperti tadi, prabowonyapresbuatbayarhutang. Itu jelas hestek permainan pihak-pihak tertentu. Mereka mungkin sudah punya ribuan atau ratusan ribu akun dan memposting secara berkala atau bersamaan, dan lalu khalayak ramai dengan akun asli mereka ikut-ikutan menabuh gamelan. Celakanya, banyak yang membebek tersebut menyelipkan link atau tautan ke situs yang tidak ada hubungannya dengan hestek. Dan seringkali situs tersebut adalah situs carding alias pencurian di dunia maya. Kalau tidak hati-hati dan kita mengkliknya, mungkin sekali anda akan dibawa ke situs porno atau judi atau hal-hal negatif lainnya.

Banyak yang tertipu dengan hal ini. Bahkan akun resmi menteri Kominfo Tifatul Sembiring pernah meretweet (atau following?) akun porno. Katanya sih, kepencet. Bener atau ga ya kita ga tahu. Dan apakah itu kepencet sama sang Menteri sendiri atau ada yang ngadminin, kita juga ga tahu. Ini juga pernah terjadi pada akun Gus Mus, salah seorang kiai NU tersohor. Bahkan akun musikus terkenal Adie MS, pernah dibajak. Untungnya sang hacker masih berbaik hati, mengembalikan akun tersebut kepada yang punya. Meski bertahap. Pertama dikasih passwordnya. Eh, emailnya sudah diganti sama email pembajak. Barulah beberapa hari kemudian emailnya dikembalikan ke yang asli.

Jokowi no 2 Prabowo no 1
Jokowi no 2 Prabowo no 1

Hari-hari kedepan, di musim kampanye , akan ada hestek-hestek asli atau kejutan yang akan meramaikan dunia . Yang disindir atau diserang ga usah khawatir. Karena dunia sosmed terutama twitter dan facebook sudah menjadi warna tersendiri dalam dunia politik, mainkan saja sesuai aturannya. Balas hestek dengan hestek. Balas TTI dengan TTI lainnya. Boleh pake akun hantu, toh ga dilarang pemilik twitter. Kalau bisa sih akun asli. Yang jelas ga boleh fitnah, ga boleh black campaign alias kampanye hitam. Sebab sekarang sudah berlaku UU ITE alias undang-undang transaksi elektronik dan dunia maya. Ada juga undang-undang pemilu. Anda bisa digugat ke penegak hukum. Dan sudah ada contohnya orang didakwa karena postingan di twitter, seperti akun benhan dan triomacan.

Lalu apakah hestek prabowo nyapres buat bayar hutang adalah black campaign atau sekadar negative campaign? Saya tidak tahu. Konon ia punya utang 14 triliun, lebih tepatnya utang perusahaan kertas miliknya. Tapi pengelola perusahaan sudah membantah. Lagi pula, utang perusahaan berbeda dengan utang pribadi. Setiap capres harus menyertakan pernyataan ia tidak punya utang. Menurut saya disini utang pribadi, ga tahu kalau utang perusahaan. Ada juga rumor perusahaannya di Kalimantan belum bayar upah karyawan selama empat bulan. Itu juga sudah dibantah oleh direkturnya. Ga tahu kalau ada bantahan atau pembenaran dari karyawannya. Sebab kita tahu, karyawan kalau salah ngomong di media bisa berabe akibatnya.

Akhir kata, selamat memainkan hestek, baik kepada kubu Prabowo-Hatta Rajasa maupun kepada Joko Widodo-Jusuf Kalla. Bermain yang cantik, cari simpatik, jangan cari musuh. Edukasi masyarakat dengan gagasan besar dan bermanfaat, bukan dengan isu murahan dan memecah belah. Mudah-mudahan kampanye pilpres kali ini bisa menyuguhkan pendidikan politik yang bermartabat dan lebih maju daripada pemilu sebelumnya.

FacebookTwitterGoogle+Share

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *