Pemimpin yang Pandai Pidato

Jokowi vs Prabowo
vs

Tadi malam, Selasa 3 Juni 2014 ada deklarasi kampanye dari dua pasangan capres dan cawapres, diinisiasi oleh Komisi Pemilihan Umuim (KPU). Saya tidak sempat melihat langsung, juga belum melihat rekamannya dari youtube hingga tulisan ini dibuat. Namun dari berita online dan dari komentar kedua kubu di twitterland, ada yang bilang pidato Prabowo Subianto lebih baik dari Joko Widodo. Ada yang bilang skornya 2-0 untuk PS, yang pertama saat pengambilan nomor urut Minggu lalu. Apakah penampilan kedua capres akan mempengaruhi suara di kotak suara 9 Juli nanti? Apakah pidato mereka akan diikuti praktiknya di lapangan? Apakah ada pidato dan debat yang kualitasnya bagus?

Kita bicara tiga hal tentang pidato pemimpin. Pertama,  pengaruh pidato pemimpin terhadap elektabilitas mereka. Saya yakin ini ada. Survei Lingkaran Survei Indonesia (LiSI) yang dirilis akhir Mei 2014 menerangkan bahwa masih ada sekitar 41% calon pemilih yang belum menentukan pilihan alias undecided voters. Bagi saya ini bermakna dua, yaitu memang benar-benar belum menentukan pilihan, atau sudah tapi enggan membeberkannya ke peneliti. Kalau undecided voters ini terbagi rata ke kedua calon, Jokowi masih unggul sekitar 10 poin. Inilah pangsa pasar yang dibidik kubu Prabowo. Orang-orang yang sudah menentukan pilihan tidak akan terpengaruh oleh sekadar pidato. Toh memang Jokowi tidak pandai pidato. Ia pernah meresmikan pengurus organisasi baru tingkat propinsi, KNPI kalau tidak salah, hanya dengan satu kalimat: pesan saya, yang rukun! Wassalam. Dan orang-orang tertawa. Tapi bagi para pemilih  yang masih bimbang, kepandaian pidato mungkin mempengaruhi mereka. Tinggal berapa persen jumlahnya. Masih ada orang-orang yang menganggap presiden harus pandai pidato, harus orator ulung, harus berapi-api dan membangkitkan semangat juang. Tidak salah. Meski tidak harus demikian.

Di dunia, ada pemimpin jagoan yang pandai pidato, ada pula yang pendiam. Di China Deng Xiaoping yang pendiam yang sebenarnya membangun China. Di Amerika, para politisinya jago pidato. Tapi di Inggris, para politisinya lebih jago berdebat.

Kedua, apakah pidato yang bagus akan diterapkan di lapangan? Kita berharap begitu. Tapi faktanya, hari ini kampanye negatif dan hitam terus menyerang kedua kubu. Jokowi diserang dengan isu ia akan menghapus tunjangan guru, ia keturunan China, ia dibekingi konglomerat hitam, dan sebagainya. Bahkan tabloid Obor Rakyat yang fokus menyerang dirinya banyak dijumpai di daerah Madura dan Jawa Timur. Bahkan disinyalir tabloid ini dicetak jutaan eksemplar dan diedarkan di seluruh Indonesia. Alamat redaksinya fiktif. Orang-orang tiba-tiba menjumpainya di depan rumah mereka, bahkan di masjid-masjid. Jokowi juga diserang surat palsunya yang disebarkan di twitterland bahwa ia mengajukan surat penangguhan penahanan kepada Kejaksaan Agung perihal kasus bus karatan Trans Jakarta. Padahal Kejagung tidak pernah memanggilnya. Untuk kasus ini ketua Tidar Jakarta Selatan, Edgar Jonathan S, sudah dilaporkan ke pihak berwajib. Ia diduga pengunggah pertama surat palsu tersebut. Pihak Gerindra berkilah bukan Edgar orangnya, ia hanya mengkopi dari sebuah akun facebook. Sayang akun facebook tersebut sudah tidak aktif lagi. Kasus penyebaran tabloid yang menyerang Jokowi juga seharusnya dilaporkan.

Mungkin itu yang menyebabkan Jokowi terlihat kaku dalam penampilan tadi malam. Yang diucapkan dan praktiknya tidak terlihat di lapangan. Di depan manis memuji, di belakang menghantam dengan garang. Jokowi tidak pandai pidato, ia to the point. Tidak suka menjilat demi kewibawaan.

Ketiga, pidato dan debat dua hal yang berbeda. Pandai pidato tidak berarti pandai berdebat, meski keduanya adalah kepandaian menyampaikan pesan secara verbal. Dalam kampanye pilpres ini KPU menginisiasi lima kali debat, yaitu dua kali debat capres, dua kali debat cawapres dan satu kali debat capres dan cawapres. Debat pertama akan diselenggarakan Minggu 8 Juni 2014. Ini ajang untuk menyampaikan visi dan misi serta meyakinkan para calon pemilih, terutama yang belum menentukan pilihan.

Ketika Jokowi maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta 2012, ia sudah berdebat dengan Fauzi Bowo. Ia cukup bagus, fokus pada program dan tidak terpancing dengan permainan lawan. Kali ini debat capres tentu lebih luas bahasannya, bukan sekadar program memperbaiki Jakarta, tetapi memperbaiki Indonesia. Nah, debat ini lebih berkualitas untuk menunjukkan kenegarawanan seseorang dan luas sempitnya wawasan mereka. Siapakah yang menang, tentu harus dilihat nanti.

Yang jelas di depan kamera dan di depan khalayak, Prabowo sudah unggul dari Jokowi dalam hal pidato. Ia ketua dewan pembina partai politik, tentu sering berorasi. Ia juga militer, sudah terampil memberi perintah. Jokowi sebagai gubernur juga memang sering didaulat berpidato. Pidatonya sering orisinal dan tidak dibuat-buat, langsung menyampaikan apa adanya. Meski sering mengulang kata-kata yang sama. Namun demikian, bila ingin meraup suara dari para undecided voters, sudah tentu Jokowi harus melatih lebih baik kemampuan pidatonya.

Salam Indonesia Baru.

FacebookTwitterGoogle+Share

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *