Pelajaran Penting dari Stephen King

Dolores Claiborne Stephen King
Salah satu adegan Dolores Claiborne film berdasar novel Stephen King

Stephen King, dengan sangat sadar, masuk dalam list penulis favorit saya. Entah kapan saya pertama berinteraksi  dengan karya-karyanya, dan juga lupa apakah novelnya yang pertama saya baca atau filmnya yang saya tonton lebih dahulu. Yang jelas, saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap  pendekatannya dalam berkisah dan mengungkapkan sisi terdalam para tokohnya.

Ide-ide Stephen King sebetulnya sederhana, ada di sekitar kita, tetapi yang berbeda adalah sudut pandangnya dan bagaimana ia mengolah karakter utamanya, laksana tiki taka Barcelona di zaman Pep Guardiola. Bagaimana ia mengisahkan pergulatan batin para pemerannya, bagaimana ia menceritakan suasana dan plot tempat saat kisah berlangsung. Bagaimana ia membangun suspensi dan ketegangan, bagaimana ia membongkar satu demi satu rahasia yang terpendam, dan membongkar misteri lainnya.

Cerita Stephen King bisa bermula dari seorang penulis novel yang ditahan oleh penggemarnya sendiri dalam kisah Misery; kisah seorang gadis didikan ibu ortodoks yang punya kemampuan telekinesis dalam cerita Carrie, dan yang terbaru adalah tentang sebuah kota yang teralienasi oleh sebuah kubah raksasa dalam Under the Dome. Tiga cerita tersebut sudah diangkat ke layar lebar, menyusul puluhan atau ratusan karya lainnya yang sudah disebarluaskan oleh pita rekaman.

Stephen King sudah menjual lebih dari 350 juta kopi bukunya. Tentu, itu hitungan resmi versi penerbit legal. Belum terhitung yang ilegal, yang ebook versi bajakan, yang hardcopy stensilan alias fotokopian. Karyanya tidak terbatas pada novel. Ia juga sudah menulis skenario film, novel grafis, teleplay, ebook, cerita pendek, dan tentu artikel non  fiksi lainnya. Lelaki kelahiran Maine ini sudah menjadi legenda hidup, karya-karyanya menjadi panduan banyak penulis di generasinya dan para penulisnya.

Raja ini pernah mengalami kecelakaan, di tahun 2000. Di saat sulit seperti itu ia sempat menulis On Writing, tentang panduannya dalam bertutur kata. Ia menekankan beberapa hal. Misalnya: ceritakanlah, jangan katakan. Titik beratkan fokusmu pada kata benda dan kata kerja, bukan kata bersayap. Jangan berlebih-lebihan menggunakan kata, yang ekonomis saja.

Ia juga menekankan pentingnya mengasah pisau. Kosa kata adalah senjata para penulis, dan seyogyanya mereka terus mengasah dan menajamkan kosa katanya, menambah perbendaharaan kalimatnya, mencoba kosa kata baru dan menggunakannya dimana perlu. Membaca tentu sangat perlu bagi para penulis, dan dari sana mereka memperoleh sudut pandang dari penulis lain sekaligus mendapat kosa kata baru kalalu mungkin.

Ketekunan juga menjadi poin penting cara menulis yang baik ala Stephen King. Konon ia menulis dua ribu kata setiap hari. Terus menerus, di saat apapun. Jangan tergantung pada mood. Semangat harus diciptakan, bukan ditunggu. Penulis bukan petani yang tergantung pada musim hujan. Penulis adalah pesilat yang harus siap menghadapi penjahat dan penjambret kapanpun dan dimanapun berada.

Menulis tiap pagi bisa jadi kebiasaan baik bagi sebagian orang. Lakukan itu. Tulis walau seratus atau dua ratus kalimat. Satu halaman setiap hari sudah menjadi satu buku dalam setahunnya. Bila tidak sempat di pagi hari, bisa sore atau malam. Bila tidak sempat di satu hari, anggaplah utang dan menulislah dua kali lipatnya di hari berikutnya. Tapi jangan lebih dari satu minggu. Ibarat pesilat, gerakan yang tidak diasah akan  menjadi kaku dan kikuk. Mungkin masih ingat dan bisa, tetapi bisa tidak luwes bahkan grogi. Bila ini terus terjadi dan terus bertumpuk, kemampuan menulis akan semakin rendah kualitasnya. Jangan sampai ini terjadi, hingga tiba-tiba kau terkejut ketika mendapati dirimu dikalahkan oleh pesilat uang jauh lebuh muda da lebih luwes dalam berkata-kata.

FacebookTwitterGoogle+Share

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *