Naomi Watts vs Edwad Norton di The Painted Veil

naomi watts dan edward norton di sungai china
dan di sungai china

Bila anda tahu, bahwa istri anda sedang bergumul dengan seorang lelaki lain di kamar, apa yang akan anda lakukan? Edward Norton punya tips: jangan buka pintu itu. Tetapi keesokan harinya, ia memberi sang isteri pilihan: ikut dia pergi ke kota lain, atau perceraian. Opsi terakhir bukan tanpa syarat, melainkan lebih berat, yaitu sang selingkuhan harus mau menikahi istrinya setelah menceraikan istri tuanya. Memang, tetapi itulah harga sebuah cinta, bukan rasa memiliki, tetapi menginginkan kebahagiaan. Tetapi mengapa ia tidak membuka pintu dan menangkap basah aib itu? Walter punya jawaban: ia terlalu sombong untuk terlibat dalam perkelahian.

Kisah diatas bukan kejadian sebenarnya, hanya adegan film (2006) yang diadaptasi dari novel karya (1874-1965). Sang istri, Naomi Watts, yang merasa tersiksa karena harus mengikuti sang suami ke pedalaman China dan bergumul dengan wabah kolera, sibuk dengan urusannya sendiri yang tak jelas. Sang suami, seorang bakteriologis yang merangkap dokter sibuk menganalisis berbagai sel amuba yang menjadi sumber penyakit. Ia sempat mengisolasi sebuah sumur yang menjadi sumber air bagi warga desa sehingga mendapat kecaman. Ia juga menghalau kedatangan ratusan warga lain yang telah terkontaminasi, demi agar wabah tidak menyebar. Pada akhirnya ia menjadi korban juga.

rumah di desa china
rumah di desa china

Kesalahan suami isteri tersebut, untungnya mereka sadari sebelum terlambat. Mereka saling mencari apa yang tidak ada dalam pasangannya. Dan hal tersebut adalah hal-hal kecil. Sang istri, Kitty Fane, suka pesta, keglamouran, main piano dan dansa. Sang suami suka menenggelamkan diri dalam mikroskop dan makhluk-makhluk pemalu yang tak terlihat. Ketika bersama, mereka terlibat dalam pembicaraan sepotong-sepotong dan sering tidak tuntas. Yang hanya Walter tahu adalah, ia mencintai istrinya. Sang istri, yang berasal dari keluarga kaya, tidak terlalu. Atau: belum tahu. Tetapi pada akhirnya setelah pertengkaran dan dialog bertahun-tahun ia mulai memahami dan punya alasan mencintai suaminya. Ketika resmi menjanda, ia sudah mengandung bayi. Ia beri nama Walter, seperti nama suaminya.

Saat anaknya berumur lima tahun, Kitty berjumpa kembali dengan Charlie Townsend di London. Sama sekali sudah hilang asmara yang menggebu-gebu yang pernah melanda Kitty. Ketika sang anak bertanya siapa lelaki itu, ia hanya menjawab: ia tidak penting, sama sekali tidak penting.

kincir air dari bambu untuk atas wabah kolera di china
kincir air dari bambu untuk atas wabah kolera di china

Film drama ini berlatar belakang China tahun 1920-an. Anda dapat menikmati dua kultur berbeda, budaya Amerika dan pedalaman China. Anda bisa menyaksikan dansa ala Barat dan opera ala China. Dan tentu saja, pemandangan indah di daratan Tiongkok masa itu. Desa dan sawah yang hijau, perahu dan sungai yang tenang, kincir air dari bambu yang besar, dan warga desa yang berpakaian tradisional. Sayangnya budaya religi orang-orang China tak terlihat. Hanya ada sebuah rumah yatim yang diasuh oleh biarawan Kristen. Disanalah Kitty sempat menemukan kebahagiaan, ketika bersama-sama anak-anak yatim menari bersama diiringi permainan pianonya.

Pada akhirnya, kepercayaan adalah hal yang seharusnya terjadi setelah kita saling mencintai. Saling menuntut orang yang kita cintai agar sesuai dengan imajinasi kita, selain tidak akan pernah terjadi, juga adalah bentuk penjajahan. Dalam perjalanannya, sering kali tuntutan tersebut berbelok menjadi kebencian dan lalu saling menghujat. Cinta bukanlah menuntut pasangan agar sesuai dengan fantasi kita, melainkan menerima apa yang sudah ada dan mencoba mencari serta menemukan dan lalu membangun apa karakter yang bisa dilakukan berdua. Itulah makna hidup bersama: saling meniadakan negativitas dan menumbuhkan positivitas.

Summary
Review Date
Reviewed Item
The Painted Veil
Author Rating
4
FacebookTwitterGoogle+Share

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *