Lahap Seekor Lalat, Pria Ini Diganjar 40 Juta Rupiah

13 sins 2014
2014

Bila anda disuruh membunuh seekor lalat dan mendapatkan upah seribu dolar, maukah anda melakukannya? Tentu saja, tidak perlu pikir dua kali. Bahkan tidak diupahpun mungkin mau, apalagi kalau sang lalat sangat mengganggu keasikan anda. Namun bila anda disuruh memakan lalat dan diupah 3.662 dolar, apakah mau? Mungkin sekali, bila upah yang pertama sudah terbukti nangkring di rekening bank anda. Hampir 40 juta rupiah untuk makan lalat bukan hal yang terlalu berat. Di tayangan Xfactor bahkan seringkali peserta disuruh makan belatung atau kecoak, dan kalah tanpa dapat apa-apa. Demikianlah, tantangan akan semakin besar dan hadiahnya pun semakin menggiurkan, hingga anda dapat tantangan final: membunuh anggota keluarga sendiri.

Itulah bangunan cerita dalam film 13 Sins (2014) ini. Sang pelaku utama, seorang lelaki yang tengah bermasalah dengan keuangan, mendapat tantangan melalui telepon dari seseorang. Mulanya sih asik-asik aja, sampai ia terlibat dalam serangkaian pembunuhan yang tidak ia sadari. Ketika tahu ia terlibat terlalu jauh, sudah terlambat untuk mengakhiri. Bukan hanya karena ia terlibat kriminalitas, melainkan juga bahwa ia tengah berkompetisi dengan saudaranya sendiri. Bila ia tidak membunuh, misalnya, maka saudaranyalah yang membunuh dan ia dinyatakan kalah. Dengan kata lain, sesadis apapun permintaan sang penelepon, salah seorang dari mereka akan melakukannya. Itu terbukti ketika ia diminta membentangkan tali baja oleh seorang wanita tua, dengan dalih sebagai tempat menjemur pakaian, ternyata tali baja tersebut membentang diatas jalan raya, dan serombongan pesepeda motor sedang melaju. Ia tahu apa yang akan terjadi, dan cepat-cepat melepas kembali. Namun kelegaan hanya sesaat. Rombongan tersebut, setelah sang kepala mendapat telepon, berbalik kembali. Dan di ujung sana, seseorang membentangkan kembali tali baja. Ia sia-sia mencegah, dan akibatnya bisa diduga.

Elliot Brindel, si pelaku utama yang diperankan oleh tersebut,  ingin berhenti. Bahkan ketika ia disuruh meledakkan kereta, ia membuang telepon itu. Tapi ia saudaranya, Michael (Devon Graye), akan melakukannya, sehingga mengejar sang pelaku. Pada akhirnya, kedua saudara tersebut tiba pada tantangan ke-13: harus membunuh ayah mereka.

Film ini memang horor dan sadis, penuh darah dan kekerasan. Juga misteri. Apakah anda sadar bahwa si penelepon ternyata adalah sang polisi yang selama ini sibuk menggelar perkara pembunuhan? Apakah sang lelaki sanggup menghancurkan lingkaran setan tersebut? Dan apa yang ia lakukan, bahwa ketika ia sampai di tahap akhir, sang istri, Shelby (diperankan Rutina Wesley) ternyata menerima tantangan serupa: makan lalat demi ribuan dollar?

Semua film memberi pelajaran, meski sang pembuat tidak menyadari bahwa ia menyisipkan pesan tertentu dalam karyanya. Di film garapan ini, saya tidak terlalu yakin apakah pesannya agar kita tidak malu bekerja keras untuk mengejar cita-cita, bukan hanya malas-malasan dan berharap imbalan yang besar. Ada pesan lainnya, mungkin, misalnya bahwa kita harus berani mengakhiri apa yang sudah kita mulai. Kita harus berani memutus bila sesuatu itu mulai memburuk dan berpotensi menghancurkan. Keberanian mengambil keputusan itulah karakter yang harus dipunyai seorang lelaki, bahkan bila itu tidak menyenangkan. Ketika keputusan telah diambil, akan ada konsekuensi yang mengikutinya, dan sang lelaki harus berani mengakui dan menghadapinya. Tidak mudah, tetapi juga bukannya tidak mungkin. Itulah harga lelaki pemberani.

FacebookTwitterGoogle+Share

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *