Kampanye Hitam atau Negatif Cameo Project

Capres Cawapres 2014
Capres Cawapres 2014, muka ma tubuh beda

Saya mengenal Cameo Project, tatkala pada pilgub DKI Jakarta 2012 membuat video parodi lagu One Direction dengan lirik dan video yang jenaka, dan dilihat jutaan pemirsa di Youtube. Mereka mendukung , dan membuat berbagai aktraksi kampanye yang kreatif dan positif. Ngakunya sih, saat itu, mereka relawan dan tidak dibayar. Kali ini mereka kembali membuat video parodi tentang dua capres sekaligus, dan . Di awal video mereka sudah membuat disclaimer: kami tidak tahu apakah ini atau positif. Lalu berbagai drama menampilkan berbagai isu tentang dua calon pemimpin negara tersebut.

Di adegan pertama ada tiga orang yang sedang berbincang di sebuah meja. Yang satu bilang bingung mau pilih mana. Ada yang menimpali, eh , jangan pilih Prabowo lho, ntar lo ilang. Eh, baru nengok beneran ilang. Usut punya usut ternyata Cuma nyari korek dibawah meja. Lalu menoleh yang di kiri, eh ilang juga. Maka dua orang itu sibuk mencari temannya: lo nyari korek juga? Adegan pertama selesai.

Tentu adegan tersebut menyinggung tentang masa lalu Prabowo, danjen kopassus ketika belasan aktivis mahasiswa hilang diculik. Tim Mawar bentukan Kopassus sudah mengaku menculik, mereka sudah dihukum oleh Mahkamah Militer. Namun masih ada 13 orang yang belum kembali. Prabowo mengaku tidak menculik mereka, tapi ia tidak datang ketika Komnas HAM memanggil untuk diklarifikasi.  Suasana ini sebetulnya merugikan mantan mantu penguasa Orde Baru tersebut. Ia tidak jelas secara hukum, bersalah atau tidak. Yang jelas ia sudah diberhentikan oleh Presiden BJ Habibie atas rekomendasi Dewan Kehormatan Perwira (DKP) pimpinan KSAD Jenderal Subagyo HS.

kampanye hitam negatif JOkowi dan Prabowo
kampanye hitam negatif JOkowi dan Prabowo

Apakah adegan tersebut fun parodi atau negatif atau ? Silakan anda nilai sendiri. Namun yang hendak saya kritisi adalah adegan terakhir. Di situ dikisahkan ada seorang fans Jokowi yang memesan figure alias patung kecil atau manekin Jokowi. Ia memesan secara online dan saat itu juga langsung datang. Figur ini skalanya satu banding satu, jadi besar dan berat. Petinya jelas bergambar capres nomor dua tersebut. Namun ketika dibuka, isinya Megawati! Merasa ada yang salah, si pemesan menelpon toko dan memprotesnya. Si penerima, seorang wanita, mengecek kembali pesanannya dan ngotot bilang bahwa pesanannya benar. Ia berkata, memang kalau memesan figur Jokowi isinya adalah Megawati. Adegan berakhir.

Apakah itu kampanye negatif? Jelas. Adegan itu semakin meneguhkan bahwa Jokowi  hanya capres boneka, semua yang dikatakan dan dilakukan adalah template dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Si pembuat hendak mengatakan bahwa pilih Jokowi sama dengan memilih Megawati. Apalagi sejak awal Mega sudah mengatakan bahwa Jokowi adalah petugas partai yang diberi mandat untuk menjadi calon presiden dari partai berlambang moncong putih tersebut. Itu sudah ditulis dalam sebuah kertas politik pertengahan Maret lalu. Dan sejak itulah gelombang serangan kepada Jokowi semakin besar.

Ada tiga catatan dalam adegan terakhir tersebut. Pertama, betul Jokowi adalah petugas partai, yaitu kader partai yang ditugaskan untuk menjadi calon presiden. Lalu dimana masalahnya? Bandingkan dengan Prabowo, ia juga menjadi calon presiden karena diusung oleh partai Gerindra, bahkan karena kurang suara ia juga didukung oleh Partai Golkar, PKS, PAN dan PPP. Sama-sama ditugaskan partai untuk bertarung dalam pilpres 9 Juli mendatang. Bedanya, Prabowo sudah jauh-jauh hari ingin menjadi capres dan karena itulah ia membentuk Gerindra, partai politik yang melejit dan meraih hampir 12% suara dalam pileg lalu. Sedangkan Jokowi tidak, ia bukanlah pengurus inti PDI Perjuangan. Ia pernah tercatat sebagai kader di Solo, lalu di DPD Jawa Tengah, tetapi tidak pernah aktif. Tugasnya sebagai walikota Solo dan gubernur Jakarta sudah menyita waktu, energi dan pemikirannya. Ia semata-mata maju karena diberi mandat untuk maju. Jadi kalau Jokowi adalah petugas partai atau boneka Mega, begitu juga Prabowo, ia petugas partai koalisi tenda besar dan boneka para elit partai-partai tersebut. Lalu apakah itu salah? Tergantung apa yang harus dikerjakan oleh keduanya saat menjadi presiden nanti.

Kedua, karena bukan “pemilik partai”, Jokowi diasosiasikan lebih mudah disetir dan dikendalikan Mega. Kebijakannya saat menjabat nanti, harus sesuai dengan arahan Mega. Termasuk misalnya, menjual aset-aset negara nanti. Ini asosiasi yang berlebihan dan faktanya sudah dibantah oleh kebijakan Jokowi selama sembilan tahun menjadi pejabat publik. Apakah kebijakannya di Solo dan di Jakarta harus menuruti apa kata Mega? Apakah keberpihakannya pada keindahan kota sekaligus pada pedagang kaki lima dan membuat ia mampu merelokasi mereka tanpa prahara adalah atas arahan Mega? Apakah keputusannya merelokasi para penghuni bantaran waduk Pluit ke rumah susun lalu membangun taman waduk Pluit adalah atas arahan Mega? Sama sekali tidak. Itu semua diputuskan dan dikerjakan karena itulah yang dibutuhkan masyarakat. Banyak para pejabat tidak berani mengambil kebijakan karena akan ada pihak yang dirugikan. Bertahun-tahun, bahkan konon dua puluh tahun para pedagang kakilima Solo menyerobot taman Banjarsari yang merupakan ruang terbuka publik untuk berdagang. Semua orang tahu mereka harus dipindahkan, tetapi bagaimana caranya? Juga ribuan penduduk di bantaran kali dan waduk di Jakarta, mereka penghuni ilegal dan harus dipindahkan bila ingin Jakarta tidak banjir. Tetapi bagaimana caranya? Itulah fokus kerja Jokowi, mengambil keputusan dengan win win solution. Apa yang ia kerjakan memang kebutuhan warga secara keseluruhan dan sesuai undang-undang, dan tak ada hubungannya dengan kepentingan Megawati.

Ketiga, ini yang perlu, bahwa apakah benar bila kita memesan figur Prabowo maka yang datang adalah Prabowo juga? Belum tentu. Prabowo itu asli, demikian hestek salah satu petinggi PKS yang mendukung pangkostrad dua bulan itu. Benarkah asli? Benarkah semua kebijakannya adalah hasil buah pemikirannya? Belum tentu. Coba lihat orang-orang di sekelilingnya, terutama adik kandungnya, konglomerat Hashim Djojohadikusumo. Sebenarnya orang inilah yang layak menjadi real king, dialah otak dibalik pendirian dan kejayaan Partai Gerindra. Ia pengusaha licin dan kelas kakap. Ia punya duit dan jaringan. Ia punya visi misi ke depan. Ia yang membuat iklan Prabowo saat pilgub DKI Jakarta dan mengaku habis 52 miliar, lalu bilang bahwa ia ditipu Jokowi. Ia bilang di luar negeri bahwa Prabowo sangat pro Amerika, tetapi yang sampai di telinga calon pemilih adalah bahwa Prabowo sangat ditakuti AS. Ia bilang PKS adalah berbahaya, bahwa Mentan dari PKS sudah memecat seluruh pegawai beragama Kristen. Namun ia tentu senang ada FPI, Front Pembela Islam yang bergabung bersama Gerindra. Juga ada Forkabi dan berbagai organisasi masyarakat lainnya. Jadi boleh dibilang Hashim adalah kreator dan nyawa penting Gerindra serta sepak terjang Prabowo. Boleh jadi kalau anda memesan figur Prabowo, yang anda dapatkan adalah Hasjim Djojohadikusumo. Apalagi ia penyuka keris dan kolektor arca purbakala. Ingat peristiwa ketika Kraton Kasunanan Solo dijarah koleksi patungnya? Ada yang ternyata ditemukan di rumah Hashim!

Jadi masih percaya kalau Cameo Project hanya bikin video parodi dan netral untuk kedua kubu? I don’t think so.

FacebookTwitterGoogle+Share

One thought on “Kampanye Hitam atau Negatif Cameo Project

  1. Pingback: Ki Joko Bodo Tobat | Beritau Net

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *